PENGANTAR FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
Oleh Prof.
Marsigit, M.A
Berkuliah
di Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan
dihadapkan pada beberapa mata kuliah pilihan, bagi mahasiswanya yang sedang
menjalani semester 6 dan semester 7. Untuk saya dan teman-teman semester 7,
kami dihadapkan pada beberapa mata kuliah pilihan yang salah satunya beberapa
dari kami memilihnya adalah Filsafat Pendidikan Matematika oleh Prof. Marsigit,
M.A. Perkuliahan perdana dilaksanakan hari sabtu tanggal 5 september 2020 pada
pukul 09.00 pagi sesuai dengan kesepakatan.
Sabtu pagi melalui Google Meet dan Google Classroom yang sudah dirancang dengan sangat baik oleh Pak
Marsigit untuk perkuliahan kami, pertemuan kuliah perdana filsafat pendidikan
matematika dimulai. Pertemuan perdana ini diisi dengan penjelasan sistem
perkuliahan selama satu semester dan pengantar awal yang merupakan dasar dari
filsafat. Selain itu, penjelasan-penjelasan beliau juga didasari dari
pertanyaan-pertanyaan kami yang sebelumnya sudah terdaftar pada daftar
pertanyaan di WhatsApp Grup.
Adapun penyampaian materi oleh Prof.
Marsigit akan saya cantumkan pada beberapa point
penjelasan berikut ini :
Ø Buku Acuan
Filsafat Pendidikan Matematika
Buku acuan yang digunakan dalam perkuliahan adalah
buku milik Paul Ernest dengan judul The
Philosophy of Mathematics Education. Sejauh ini, pemikiran penulis dalam
bukunya masih yang paling erat, jelas dan baik dalam menjelaskan filsafat
pendidikan matematika. Penulis masih
hidup sampai dengan sekarang.
Ø Adab
Belajar Filsafat
Dalam
mempelajari filsafat, ada adab-adab yang harus diperhatikan. Terdapat 3 (tiga)
adab yaitu :
1. Tidak boleh
menjadikan atau mengurangi ketakwaan kepada Tuhan, justru malah sebaliknya,
dengan mempelajari filsafat ketakwaan kita menjadi meningkat.
Filsafat adalah pola pikir dan
pikiran tidak selalu memahami segala isi hati, sedangkan dihati ada iman.
2. Belajar
filsafat tidak boleh sepenggal-sepenggal atau parsial (sebagian) saja, tetapi
harus komprehensif (menyeluruh).
Kunci mempelajari filsafat secara
komprehensif adalah dengan banyak-banyak membaca, tidak berorientasi pada
hafalan tetapi mengulang-ulang bacaan dan banyak membaca agar tercipta pola
pikir.
3. Tidak boleh
salah ruang dan waktu.
Berfilsafat harus mengetahui ruang
dan waktu, karena tidak setiap saat filsafat bisa diterapkan. Misalnya saja
berfilsafat ketika sedang beribadah (misalnya sholat atau ibadah lainnya), maka
itu sudah menyalahi ruang dan waktu.
Ø Alat
Belajar Filsafat
Filsafat
memiliki alat yaitu analog. Misalnya, ketika kita berbicara tentang
cinta, maka analognya adalah hati (berbicara cinta sambil menunjuk hati).
Ø Metode
Filsafat
Metode yang
digunakan dalam filsafat disesuaikan dengan objeknya. Terdapat 2 (dua) metode
yaitu metode intensif dan metode ekstensif. Juga memiliki 2 (dua) objek yaitu
objek material dan objek formal.
Metode
intensif (didalamkan) adalah metode yang mempelajari sampai ke dalam-dalamnya. Misal
kita ambil contoh meja, maka yang akan diketahui dari mempelajari meja dengan
metode intensif adalah tinggi meja, berat meja, warna meja.
Sedangkan
pada metode ekstensif (diluaskan) adalah metode yang mempelajari secara luas
posisi sesuatu. Misal kita kembali menggunakan contoh meja, maka yang diketahui
dari mempelajari meja dengan metode ekstensif adalah meja bersama kursi dan
lemari merupakan satu kelompok ‘furniture’.
Kemudian
untuk objeknya, objek formal adalah kerangka sedangkan material adalah isinya.
Ø Pilar-pilar
dalam Filsafat
Filsafat
selalu bermakna atau memiliki 3 pilar yaitu ontology, epistomologi dan
aksiologi.
1. Ontologi
Ontologi membicarakan hakikat
(segala sesuatu).
Mencakup metafisik.
Contohnya seperti awal dan akhir
jaman.
Menjawab pertanyaan ‘apa?’
2. Opistomologi
Opistomologi membicarakan cara
memperoleh pengetahuan itu.
3. Aksiologi
Aksiologi membicarakan guna
pengetahuan itu.
Ø Ketercapaian
Belajar Filsafat Pendidikan Matematika
Ketercapaian
pembelajaran bisa diukur dengan menjawab pertanyaan ‘Bagaimana anda bisa menjelaskan kejadian/fenomena dalam pembelajaran di
dalam kelas secara filosofi/filsafat?’
Misalnya
saja seperti : mengapa harus ada diskusi kelompok?
Jika
menjawab pertanyaan dengan ‘karena untuk menyelaraskan dua pikiran…’ maka
jawaban tersebut masih merupakan jawaban taraf psikologi.
Sedangkan
jawaban taraf filsafat adalah ‘karena matematika adalah kegiatan sosial.’
Selain beberapa poin yang telah
dipaparkan diatas, terdapat satu pembahasan Prof. Marsigit yang saya rasa
sekaligus menjawab pertanyaan saya pada saat belajar mandiri sebelumnya, yaitu
pada pernyataan beliau : ‘Apakah setiap orang bisa berfilsafat? jawabannya
tidak, karena berfilsafat itu timbul dari refleksi. Tidak semua bisa ditanya
dan tidak semua memiliki jawaban.’
Terimakasih Prof. Marsigit untuk ilmunya
pada kuliah perdana ini J
----------------------------------------------
Laporan Kuliah Perdana;
Sabtu, 5 September 2020.
Salsabila Nadifah Fitriani | 17301244033
filsafatpmatsalsabila.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar