POLA PIKIR DAN KEDUDUKAN FILSAFAT
Oleh : Prof. Marsigit, M.A.
Filsafat adalah
hakikat ilmu, hakikat segala sesuatu dalam batas-batas manusia. Jika manusia
lahir ditengah-tengah semesta yang luas, maka haruslah diyakini bahwa setiap
hal didalamnya memiliki hakikatnya. Ada ruang yang harus diperjelas dengan
pondasi yang kuat, ada batas-batas yang harus dijaga dengan keyakinan yang
kokoh, dan filsafat adalah ilmu atas pondasi serta keyakinan tersebut.
Filsafat adalah
pola pikir, sehingga mempelajari filsafat tidaklah seimbang jika tidak lebih
dulu membangun pola dan cara berpikir. Cara berpikir yang tepat akan menuntun
pada pemahaman yang benar. Meski berfilsafat tidak selalu memahami isi hati, kita
akan sampai pada pemahaman yang tepat jika memiliki pola pikir yang baik dan
disertai pembelajaran komprehensif. Untuk mengawali pembelajaran, haruslah
dipahami terlebih dahulu ruang dan waktu.
Dalam adab belajar filsafat, tidak bolehlah kita berfilsafat pada ruang dan waktu yang salah. Untuk itu, perlulah dipahami terlebih dahulu ruang dan waktu beserta isinya. Pada video pembelajaran milik Prof. Marsigit, M.A., pembelajaran diawali dengan membagi dua dimensi dan mengelompokkan setiap hal yang ada ke dalam dua bagian, saya lebih memahami pembagian ini seperti bumi dan langit. Ketika apa-apa yang ada di bumi ini terikat oleh ruang dan waktu, sedangkan langit tidak terikat. Setelah dimensi sudah terbagi, maka terjadi pengelompokkan sebagai beikut :
|
Bumi |
Langit |
|
Vital, memilih, berubah, ikhtiar, contoh, realism,
materialism, bendaism, hukum alam, sintetik, persepsi, correspondentianism,
Daksa, aposteriori, anak, binatang, pengalaman, A≠A, kontradiksi, novelty,
pluralism, empiricism. |
Fatal, terpilih, tetap, takdir, definisi, asumsi,
idealism, absolutism, spiritualism, kuasa tuhan (kausa prima), logicism,
coherentism, analitik, konsisten, aksioma, theorem, dewa, formal, normative,
apriori, dewasa, A=A, identitas, tautologis, Esa, monoism rasionalism. |
Pemahaman ruang
dan waktu diajarkan oleh Prof. Marsigit dengan mengelompokkan sesuai dengan
ruang dan waktunya. Hal ini yang kemudian membuka mata kita tentang posisi dan
kedudukan dari banyak hal yang ada di kehidupan kita, dimana sebenarnya letak
dan posisinya. Seringkali kita masih salah memahinya, misalnya saja ketika kita
melihat sebuah gedung. Pengucapan yang sering kita dengar adalah ‘gedung
tersebut tidak konsisten’, padahal yang tidak konsisten adalah pemikiran kita
saja bukan kenyataannya. Kata ‘cocok’ lebih tepat digunakan, sehingga perbaikan
kalimat menjadi ‘gedung tersebut tidak cocok, ya.’ Posisi konsisten pada
pembahasan sebelumnya telah kita pahami dan memiliki ruang dan waktu yang
berbeda sehingga kurang tepat.
Beberapa penjelasan
kata dari pengelompokkan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.
ü
Kuasa Tuhan atau kausa prima adalah sebab dari
segala sebab yang ada.
ü
Apriori adalah sudah lebih dulu memahami
walaupun belum melihat wujudnya, sedangkan aposteriori harus lebih dulu melihat
wujudnya.
Masih berdasarkan
pada pengelompokkan diatas, terdapat dua tokoh yang saling bersebrangan
pendapat dan pemikiran namun sesuai dengan dua pembagian tersebut. Mereka adalah
Herakleitos dan Parmenides. Herakleitos meyakini segala sesuatu itu berubah dan
pendapatnya berada pada dimensi ‘bumi’, sedangkan parmenides meyakini bahwa
segala sesuatu itu tetap dan tidak berubah sehingga pendapatnya berada pada
dimensi ‘langit’. Pendapat keduanya kemudian berkembang dan menjadi dasar
pemikiran dua tokoh selanjutnya yaitu R. Descartes dan David Hume. David Hume
meyakini bahwa sebenar-benarnya ilmu berdasarkan dari pengalaman sedangkan R.
Descartes meyakini bahwa sebenar-benarnya ilmu harus berdasar pada rasio.
Pada kenyataannya,
tidak ada sesuatu yang sama. A=A yang tertulis pada ilmu matematika yang sering
kita jumpai adalah salah, dia tidak ada pada kenyataan karena itu hanya ada
pada pikiran kita saja.
A.Compte,
seorang tokoh filsuf yang wafat pada tahun 1857 pernah mengatakan kepada semua
orang bahwa apa yang telah diketahui dan/atau diperdebatkan dari perbedaan diatas
tidaklah penting. Ia kemudian berkata : “agama tidak bisa dipakai untuk
membangun dunia karena agama tidak logis”. Pemikiran A. Compte tersebut cukup
kita ketahui dan pahami dalam pikiran saja namun tidak didalam hati. Karena kuasa
Tuhan tetaplah sebab dari segala sebab, termasuk adanya seluruh kehidupan ini.
Pembelajaran
kemudian diakhiri dengan pembahasan tatanan hidup manusia, yaitu : archaic
(manusia batu), tribal, tradisional, feudal, modern, pos modern dan power now. Perkembangan
teknologi menjadi bukti perkembangan tatanan hidup manusia yang banyak
menimbulkan kesejahteraan namun diiringi dengan kemunafikan. Pemikiran sosial
manusia kini telah tertutup egosentris diri akan kuasa. Sehingga pembekalan moral
tetap harus diperdalam dan dipertajam, termasuk ketika menuntut ilmu.
Ada banyak sekali
hal yang telah disampaikan dalam video pembelajaran tersebut dan mungkin ada
beberapa bagian yang terlewat dalam tulisan ini. Penjelasan lebih lengkap bisa
mengunjungi youtube (Marsigit GB) atau klik : (hai! klik disini ya:) untuk memudahkan kamu mengunjungi video yang menjadi tugas kali ini dan bisa juga mengunjungi facebook
beliau untuk mengetahui lebih dalam mengenai filsafat.
Terimakasih
Prof. Marsigit untuk ilmunya J
----------------------------------------------
Laporan
Refleksi Menonton Video Filsafat Bagian 1, 17 September 2019;
Salsabila Nadifah Fitriani | 17301244033
filsafatpmatsalsabila.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar