IMMANUEL KANT : MORAL DAN AKAL BUDI

 

 IMMANUEL KANT : MORAL DAN AKAL BUDI

Berdasarkan atas buku Immanuel Kant : Critique of Pure Reason


    Kritik atas Nalar Murni (Critique of Pure Reason) adalah salah satu karya Immanuel Kant yang dinilai sebagai salah satu yang paling berpengaruh di sejarah kefilsafatan. Karyanya ini merupakan tanda awal kelahiran filsafat modern. Buku ini tersusun atas catatan-catatan Kant yang dengan tergesa ia tulis menjadi satu. Meski pemilihan kata yang ditulis cukup sulit dipahami, namun karyanya ini pula yang menjadi jembatan pemersatu rasionalisme dan empirisme yang bersebrangan kala itu. Hal ini sesuai dengan tujuan Critique of Pure Reason untuk kemudian menunjukkan bahwa keduanya saling melengkapi.

Berbicara tentang karya maka erat kaitannya dengan latar belakang penulis; bagaimana kehidupan yang dijalaninya juga apa yang ia dapatkan semasa hidupnya. Begitupula dengan Critique of Pure Reason ini. Untuk memahaminya maka perlu kita pahami terlebih dahulu siapa Immanuel Kant dan bagaimana perkembangan zaman saat itu yang melatari penulisan buku ini.

Immanuel Kant lahir pada tahun 1724 di Königsberg, ibukota Prusia pada waktu itu, saat ini disebut kota Kaliningrad di eksklave Oblast Kaliningrad Rusia. Dia adalah anak keempat dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Johann Georg Kant (1682-1746), adalah ahli pembuat baju zirah dan ibunya, Anna Regina Kant. Pada tahun 1730-1740, perdagangan di Königsberg mengalami kemerosotan yang mempengaruhi kondisi perekonomian keluarga.

Pendidikan dasarnya ditempuh Kant di Saint George’s Hospital School, kemudian dilanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist. Pada tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Königsberg dan mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam. Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik. Gelar profesor didapatkan Kant di Königsberg pada tahun 1770. Ia hidup semasa pemerintahan Frederick Agung sebagai Raja Prusia. Frederick Agung dikenal sebagai pribadi yang menghormati otokrasi abad pencerahan, keberanian berpikir bebas, dan spekulasi filsafat.

Kant dibesarkan dalam rumah tangga Pietist yang menekankan ketaatan beragama, kerendahan hati pribadi, dan interpretasi literal dari Alkitab. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan menyenangkan. Kuliah – kuliah yang diberikannya sangat populer dan menghibur. Akan tetapi, di sisi lain Kant juga merupakan cendikiawan yang hidupnya sangat teratur dan berdisiplin soal waktu. Kant juga merupakan pribadi yang sangat memperhatikan kesehatan.

Edisi pertama Critique of Pure Reason dipublikasikan pada tahun 1781.  Ketika menuliskan Critique of Pure Reason, Kant juga memakai dan mengkritisi gagasan – gagasan filsuf besar yang mempengaruhi zamannya. Banyak bagian buku ini yang menyangkal gagasan – gagasan filsafat empirik Hume, Berkeley dan Locke.

Kita lanjutkan dengan membahas isi buku Critique of Pure Reason.

Pada bab pertama, terdapat pembahasan tentang estetika. Penggunaan kata ini oleh Kant berbeda dengan makna umum masyarakat awam yang seringkali menggunakan kata ini sebagai ungkapan terhadap keindahan seni. Kant menggunakan kata ini mengacu pada pengertian studi tentang persepsi yang ditangkap melalui indra secara langsung. Selain kata estetika, Kant juga memberikan pengertian yang khas dalam memahami kata intuisi. Dalam pemahaman biasanya, intuition atau intuisi memiliki pengertian pengetahuan naluriah, namun Kant merujuk pada suatu kondisi pengamatan tanpa konseptualisasi.

Critique of Pure Reason menurut Immanuel Kant merupakan hasil revolusi ala Corpenicus dalan dunia filsafat. Hal ini disampaikan pada beberapa catatan Kant. Nicolas Copernicus merupakan seorang ilmuwan abad ke-16 yang mencetuska teori heliosentris; teori yang menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta. Pandangannya tentang hal ini tepat secara fenomena astronomis, namun ditentang oleh otoritas gereja kala itu karena bersifat revolusioner.

Kant juga memandang bahwa pandangan pada bangunan filsafatnya merupakan revolusi terhadap akal budi manusia. Akal budi manusia saat itu hanya dipandang sebagai ‘bejana pasif’ pengalaman sesuai dengan panutan empirisme, namun dalam pandangan Kant akal budi bersifat partisipator dalam pengamatan. Kant juga menganggap bahwa akal budi lah yang memprakasai terbentuknya pengalaman, bahkan dunia yang kita pahami saat ini merupakan hasil pengorganisasian akal budi.

Kemudian, terkait pengetahuan. Bagaimana memahami sebuah pengetahuan sebagai pengetahuan? Kant hendak mengeksplorasi kondisi penentu kita dalam memiliki pengetahuan. Ia memandang permasalahan ini sebagai permasalahan analitis yang dapat dipecahkan melalui penalaran.

Setelah itu, terkait fenomena dan noumena. Menurut Kant, dunia yang dapat kita lihat merupakan fenomena yang berhasil kita tangkap dan konseptualkan. Pandangan objektif tentang dunia juga membuat kita menetap pada perspektif individu. Dunia yang kita pandang selalu datang dari perspektif kita sebagai individu. Dengan begitu, dunia noumena berbeda dengan dunia fenomena. Noumena merupakan dunia pada dirinya sendiri yang berada diluar perspektif kita. Sesuatu dalam sesuatu itu sendiri, melampaui pengalaman kita. Sehingga menurut Kant, selamanya kita tidak akan mengetahui noumena karena kita tidak dapat keluar dari perspektif kita masing-masing.

Konsekuensi pemikiran Kant terhadap fenomena dan noumena adalah dunia yang kita kenal dan tinggali merupakan dunia fenomena, dengan pemikiran kita mengorganisasikan dan mensistesiskan banyak data yang ada. Sedang noumena merupakan suatu benda dalam dirinya sendiri dan berada diluar pengalaman kita. Menurutnya pula, membicarakan segala sesuatu diluar pengalaman kita adalah omong kosong, karena perspektif kita tidak akan mencapai dan melampauinya.

Mengakhiri tulisan ini, saya rasa masih banyak lagi hal yang menjadi bahasan Kant dalam buku ini diluar konsep-konsep utamanya hingga kemudian menjadi dasar bagi filsafat modern. Terkait moral dan akal budi serta pengalaman yang dijadikan dasar Kant menuliskan idenya. Bagaimana yang bersebrangan tersebut sebenarnya dapat saling melengkapi. Pemikirannya kemudian mempengaruhi semua filsafat berikutnya, terutama berbagai aliran Kantianisme dan Idealisme. Immanuel Kant wafat pada 12 Februari 1804 di Königsberg (Kaliningrad).

 

“Dua hal memenuhi hati sanubari dengan rasa takjub dan takzim yang senantiasa baru dan bertambah, dengan kedua hal inilah pemikiran menyibukkan diri tanpa henti: Langit berbintang di atas sana dan hukum moral di dalam diriku.”

 

Refrensi Utama :

1.      Kant, I. (1929). Critique of Pure Reason (Penerjemah: Norman Kemp Smith). Boston: Bedford.

2.      Hardian, Sandy. (2016).  Critique of Pure Reason : Sebuah Pengantar. Bandung : PSIK ITB.

Refrensi Penunjang :

1.      https://iphincow.com/immanuel-kant/

2.      kompas.com/biografi-tokoh-dunia-immanuel-kant-pemikir-moral-manusia-abad-17

 

 

----------------------------------------------

Immanuel Kant : Critique of Pure Reason;

 Salsabila Nadifah Fitriani | 17301244033

filsafatpmatsalsabila.blogspot.com

 

Komentar