FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNTUK PEMBELAJARAN DI INDONESIA
Salsabila
Nadifah Fitriani | 17301244033 | S1 Pendidikan Matematika UNY
salsabilanadifah.2017@student.uny.ac.id
Matematika merupakan cabang ilmu
yang memiliki peran penting dalam proses pembelajaran manusia. Matematika juga
menjadi pondasi atas ilmu-ilmu lainnya, membangun dan melengkapi keterbukaan
pengetahuan baru bagi manusia. Sehingga, memperkuat pondasi tersebut haruslah dilakukan
khususnya dengan mempelajari struktur dan hakikat dari matematika itu sendiri. Struktur
dan hakikat tersebut dijelaskan lebih mendalam pada filsafat.
Dalam arti yang luas, filsafat
pendidikan merupakan pemikiran-pemikiran filsafat dalam pendidikan. Pemikiran
inilah yang kemudian menjadi dasar atas cita-cita, bentuk, metode, dan hasil
dari proses pendidikan. Kemudian
dalam pendidikan matematika, pemikiran ini mempengaruhi proses dalam
pembelajaran dalam bidang matematika. Filsafat pendidikan matematika lebih
menyoroti kepada proses pembelajaran serta beberapa persoalan seperti sifat
dasar, sejarah, teori belajar, serta pelaksanaannya.
Dalam perkembangannya, aliran-aliran
filsafat memiliki pengaruh yang cukup pada filsafat pendidikan. Aliran ini merupakan
hasil proses dalam sistem filsafat yang dianut oleh para filsuf. Karenanya,
tidak semua aliran cocok untuk semua lingkup. Sehingga setelah timbul
pemahaman, adanya pemilihan pada aliran yang tepat perlu dilakukan untuk
mencapai kesesuaian struktur dan hakikat bagi pendidikan matematika khususnya di
Indonesia.
Pada tulisan ini, akan dijelaskan 18
aktifitas atau kegiatan dalam memahami filsafat dan teori yang menjadi pondasi
pembangun pendidikan matematika. Disertakan pula aliran-aliran yang ada pada
setiap aktifitas juga ringkasan penjelasannya. Kemudian setelah dipahami
bersama, dipilihlah aliran yang cocok bagi pendidikan matematika di Indonesia.
Tulisan ini bersifat terbuka, ditulis atas pemahaman dan persepsi pemikiran.
Sehingga jika didapatkan perbedaan maka dapat didiskusikan bersama,
menyelaraskan pemikiran.
Berikut
adalah uraian aktifitas berserta ringkasan singkat.
Aktifitas 1 : Ideologi Pendidikan
(Ideology of Education)
Filsafat
Pendidikan Matematika pada akhirnya mengikuti filsafat pendidikan dunia yang
dapat dibagi menjadi dua yaitu konvensional dan progresif. Jika dilihat
alirannya, dibagi menjadi industrialis, progresif, demokratis, konvensional,
spiritualis dan sebagainya. Untuk dunia mencakup liberal, sosialis, dan
sebagainya (sesuai pada tabel), sedangkan untuk Indonesia cukup dibagi menjadi
dua saja misalnya metode lama (konvensional atau tradisional) dan metode baru
(progresif).
Ketika
sudah masuk ke Indonesia maka disamping filsafat ada ideologinya, yaitu yang
dianut oleh seluruh negara.
Terdapat
beberapa variasi atau aliran dalam ideology yaitu radikal, konservatif atau
tradisional, liberal atau kebebasan, humanis atau yang menjunjung tinggi
kemanusiaan, progresif atau yang selalu bergerak, sosialis atau yang menjunjung
tinggi hubungan vertical dan demokrasi atau yang menganut asas dari, oleh dan
untuk rakyat.
Untuk
Indonesia, pendidikannya memiliki ideology demokrasi atau demokrasi pancasila.
Sehingga ideology yang dipilih dalam pendidikan adalah ideology demokrasi.
Aktifitas 2 : Hakikat Pendidikan (Nature of Education)
Hakikat
pendidikan bergantung kepada negara. Bagi negara yang menganut ideology
demokrasi seperti di Indonesia yaitu dari, untuk dan oleh rakyat maka
begitupula dengan pemeritahannya. Artinya, pendidikan dijalankan sesuai dengan
kemauan atau kebutuhan rakyat. Namun kondisi ini tidaklah sama disetiap negara
khususnya negara otoriter, pendidikan disesuaikan dengan keinginan pemerintah
atau seseorang (pemimpin), mendidik rakyat agar mau memenuhi keinginannya.
Terdapat
beberapa variasi atau aliran dalam hakikat pendidikan yaitu obligasi,
eksploitasi, perubahan, kebebasan, keinginan, demokrasi atau yang lainnya.
Karena
Indonesia menganut pada ideology demokrasi, maka hakikat pada pendidikan juga
memiliki kesamaan yaitu demokrasi.
Aktifitas 3 : Hakikat Matematika (The Nature of Mathematics)
Hakikat
matematika bagi negara capital atau industry lebih cocok jika matematika
sebagai ilmu (body of knowledge, science
of truth and structure of truth) yang berorientasi kepada guru. Namun bagi
negara dengan pendidikan progresif, inovatif dan demokrasi maka matematika
adalah sebuah kegiatan sosial. Kegiatan sosial tidak berpusat pada guru, namun
siswa sebagai pemeran utamanya.
Dari
keempat variasi atau aliran, sebagai tubuh dari pengetahuan, kebenaran sains, kebenaran
struktur, proses berpikir dan kegiatan sosial, hakikat matematika yang dapat
diyakini di negara demokrasi adalah matematika sebagai kegiatan sosial. Dimana
matematika mengaliri disetiap sendi kehidupan masyarakatnya.
Aktifitas 4 : Hakikat Matematika di
Sekolah (The Nature of School Mathematics)
Hakikat
matematika sekolah yang cocok dengan pembelajaran berbasis kepada siswa maka
matematika dianggap sebagai penelusuran pola, sebagai pemecahan masalah,
investigasi atau penelitian dan komunikasi. Dari keempat variasi atau aliran
tersebut yang baik untuk diyakini di negara Indonesia sesuai dengan
ideologyinya yaitu demokrasi, keempatnya memiliki peranan yang sama sesuai pada
porsinya (seimbang).
Aktifitas 5 : Moral Pendidikan
Matematika (Moral of Mathematics Education)
Moral
erat kaitannya dengan spiritualitas, maka baik dan buruk seringkali dipandang
dalam sudut spiritualitas. Namun dalam kehidupan bemasyarakat, tidak cukup
hanya sebatas baik dan buruk saja seperti spiritualis namun harus disertai
dengan penjelasan. Kaum kapitalis hanya mempercayai baik dan buruk saja, namun
ada pula tempat yang menghendaki kebebasan, pragmatisme dengan keadilan.
Aktifitas 6 : Nilai Pendidikan
Matematika (Value Mathematics Education)
Nilai
bagi pendidikan matematika ada Intrinsic yang
memang sudah dari asalnya baik, Extrinsic
yang baik berdasar dari masukan dan motivasi dari luar dan Systemic atau yang
kita cari saat ini. Karena kebaikan pendidikan matematika jika hanya sendiri
tidaklah cukup, namun harus memiliki sistem dan pola.
Aktifitas 7 : Hakikat Siswa (The Nature of Students)
Hakikat
siswa juga bergantung pada masa atau zaman serta kondisi negara. Jika melihat
pada bangsa Indonesia dizaman penjajahan dulu, siswa adalah sebuah ‘tong
kosong’ atau empty vessel sehingga
pendidikan dipusatkan pada kepentingan pemimpin saja. Penjajahan di Indonesia
yang cukup lama ini mengakibatkan pola pembelajaran menjadikan siswa sebagai
subjek yang tidak memahami apapun atau empty
vessel sampai hari ini layaknya sebuah hakikat pembelajaran yang benar.
Padahal sejatinya iswa membutuhkan pembelajaran bukan karena ia tidak
mengetahui apapun, namun karena ia membutuhkan arahan dan bimbingan untuk
mencapai kapasitas terbaik bagi dirinya.
Aktifitas 8 : Hakikat Kemampuan
Siswa (The Nature of Student’s Ability)
Pendidikan
adalah hak semua manusia, tidak ada batasan siapa dan siapa yang
mendapatkannya, sehingga tidak cukup jika berhenti pada siswa berbakat. Jika
pendidikan hanya khusus mencari dan mengolah siswa yang sudah memiliki bakat
dan kemampuan, maka ia selesai dan tidak ada masalah. Namun pendidikan
sejatinya adalah mengubah yang tidak bisa mejadi bisa, mengubah yang tidak
berbakat menjadi senang kemudian menjadi berbakat. Kemampuan siswa sebagai
usaha, kemampuan, kebutuhan, kompetensi, kontekstual dan budaya. Seperti
Etnomatematika yang didasari pada anggapan kemampuan siswa pada konteks budaya.
Aktifitas 9 : Tujuan Pendidikan
Matematika (The Aim of Mathematics
Education)
Tujuan
pendidikan matemematika juga dipengaruhi oleh masa atau zaman juga kondisi
negara. Jika kita kembali berangkat pada zaman penjajahan di Indonesia dahulu,
maka tujuan kolonial pada pendidikan di Indonesia khususnya matematika adalah transfer of knowledge. Knowledge yang bagaimana? Knowledge atau kemampuan orang dewasa
yang di transfer kepada anak sehingga
anak mengikuti kegiatan orang tua atau dewasa. Hal ini juga sesuai dengan back to basic atau industry supaya keuntungan industry besar
maka ia butuh dukungan dengan memberi pendidikan indsutri sesuai kebutuhannya
tersebut. Namun selain dari yang sudah jelaskan, adapula to develope people comprehensively atau memiliki tujuan menjadikan
atau mengembangkan hidup seutuhnya. Ini sesuai dengan membangun kreativitas,
inovatif dan progresif sehingga tujuan tersebut sangat tepat untuk pendidikan
matematika saat ini.
Aktifitas 10 : Hakikat Pembelajaran
(Nature Of Learning)
Hakikat
belajar masih jauh terpengaruh dengan zaman dahulu: work hard, exercises, drill, memorize. Namun saat ini bisa
diterapkan dengan menganut sifat autonomy,
semua orang memiliki hak untuk membuat keputusannya sendiri. Ada kebutuhan
bahwa siswa juga perlu berfikir dan memahami (thinking and practice), memahami dan mengaplikasikan (understanding and application),
eksplorasi (exploration), dan memilih
untuk menentukan pilihannya sendiri. Untuk saat ini yang cocok adalah
menjadikan pembelajaran sebagai ruang bagi siswa untuk dapat menentukan
pilihannya, tidak lagi dipaksa atau memaksakan yang bertolak belakang dengan
kemampuannya.
Aktifitas 11 : Hakikat Pengajaran (Nature of Teaching)
Pengajaran
tidaklah terlepas dari masa, zaman, dan keadaan negara. Zaman penjajahan
meninggalkan dampak pada kebiasaan pengajaran di Indonesia yaitu transfer of knowledge atau memindahkan
ilmu dan expository atau pengajaran berpusat pada guru. Namun jika
disesuaikan pada kondisi Indonesia sebagai negara demokrasi dan zaman yang
terus berkembang, maka diskusi dan fasilitas adalah hakikat yang tepat.
Aktifitas 12 : Teori Pengajaran
Matematika (Theory of Teaching
Mathematics)
Teori
pengajaran matematika memiliki 8 variasi atau aliran yang mendunia. Variasi dan
aliran ini berkembang sesuai dengan kondisi negara. Di Indonesia sebagai negara
menganut ideology demokrasi, maka tepat dengan discussion atau diskusi dan facilitating
atau fasilitas. Siswa diajak berdiskusi dengan guru yang memfasilitasi
pembelajaran siswa. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru.
Aktifitas 15 : Hakikat Masyarakat (The Nature of Society)
Pendidikan
dipengaruhi oleh pandangan orang seseorang, misalnya pada bhinneka tunggal ika.
Jika ika saja maka lama-lama akan menghilangkan kebhinekaan, dan jika
bhinnekaan tak terkendali maka akan terjadi pemisahan secara parsial yang tanpa
persatuan. Karenanya dibutuhkan secara seimbang.
Dari
kedelapan aliran atau variasi hakikat masyarakat yang beberapa diantaranya ada
yang menekankan perbedaan dan hanya berpusat pada satu budaya saja, Social Capital menjadi yang penting dan
utama.
Aktifitas 17 : Hakikat Siswa
Belajar Matematika (The Nature Student’s
Learn Mathematics)
Dari
Sembilan variasi atau aliran belajar matematika yang mendunia, collaboration atau kolaborasi dirasa
lebih tepat, namun yang lain juga bisa digunakan secara seimbang.
Aktifitas 18 : Hakikat Pemikiran
Matematika (The Nature Mathematical
Thinking)
Hakikat
pemikiran matematika dari kedua belas variasi atau aliran, matematika konsep
dan konsep matematika dibangun pada constructing.
Komentar
Posting Komentar