PERKEMBANGAN TEORI
BELAJAR
Salsabila Nadifah Fitriani
S1
Pendidikan Matematika UNY
salsabilanadifah.2017@student.uny.ac.id
Pendahuluan
Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu
beradaptasi dan menjadikan setiap hal baru sebagai pendidikan bagi dirinya.
Artinya setiap lingkungan sosial yang dijalinnya secara terus menerus dapat
menjadi pengetahuan yang akan membentuk dirinya. Manusia dapat megembangkan
pengetahuannya sendiri dalam interaksi yang dilakukannya, sehingga dapat
terjadi perubahan-perubahan dalam struktur kognitifnya, pengetahuannya, wawasan
serta pemahamannya. Modifikasi pengalaman bagi diri manusia juga mampu
melahirkan temuan-temuan baru. Hal ini sejatinya membuktikan bahwa pendidikan
bukanlah sekedar transfer of knowledge saja
tetapi juga bagaimana mampu merangsang struktur dalam diri manusia melahirkan
sendiri pengetahuan dan penemuan-penemuan baru. Selama manusia hidup, selama
itupula pendidikan berlangsung pada dirinya sehingga manusia dan pendidikan
tidak dapat dipisahkan. Karenanya, pendidikan akan terus berkembang sesuai
dengan perkembangan dalam kehidupan manusia.
Berbicara tentang pendidikan maka erat
kaitannya dengan belajar dan pembelajaran. Jika pendidikan akan terus berkembang
sesuai dengan bagaimana manusia hidup, maka pengembangan pembelajaran juga akan
terjadi. Proses belajar dan pembelajaran akan mencapai tujuan yang telah
dirumuskan sesuai dengan kebutuhan manusia yang selalu berubah. Teori-teori belajaran
dan pembelajaran yang telah kita kenal dan pelajari juga mengalami perkembangan
dari waktu ke waktu. Penerapan teori-teori tersebut juga tidak dilaksanakan
secara seragam dan menyeluruh, perlu adanya analisa kebutuhan dengan memahami
maksudnya dan mengetahui situasi serta kondisinya. Selaras dengan tujuan
tulisan ini, akan dijelaskan perkembangan teori-toeri belajar yang telah ada
dan perkembangannya hingga saat ini.
Pembahasan
Belajar
dapat dimaknai sebagai proses usaha yang dilakukan oleh individu atau seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi lingkungannya. Dengan
belajar maka pengetahuan, ketrampikan, kebiasaan, sikap dan perilaku manusia
dapat dibentuk, disesuaikan dan dikembangkan. Dengan demikian, dapat diartikan
bahwa teori belajar adalah suatu hasil pemikiran maupun hasil penelitian yang
mampu menjelaskan bagaimana proses belajar terjadi di dalam diri seseorang.
Teori belajar juga memilii sifat deskriptif, artinya teori ini dapat memberi
penjelasan bagaimana proses tersebut dapat berlangsung didalam diri seseorang.
Dalam
teori belajar, terdapat klasifikasi teori-teori yang membangun keutuhan teori
belajar. Teori utama pada teori belajar adalah pendekatan kognitif. Pendekatan
dengan kognitivisme adalah pendekatan yang bertujuan untuk mengetahui cakupan perolehan,
pengorganisasian dan pemakaian pengetahuan yang memilliki fokus kognisi pada
memori, atensi, persepsi, bahasa, rasio, kreatifitas dan pemecahan masalah.
Namun sebelum teori pendekatan kognitif ini menjadi teori utama dalam teori
belajar, teori utama pernah didominasi oleh behaviourism (perilaku).
Behaviourism
adalah aliran yang sangat menekankan pada perlunya perilaku yang dapat diamati.
Pembelajaran behaviorisme ini bersifat molekular, artinya lebih menekankan
kepada elemen-elemen pembelajaran, memandang kehidupan individu terdiri dari
unsur-unsur seperti halnya molekul. Terdapat beberapa ciri yaitu mengutamakan
unsur-unsur atau bagian-bagian kecil, bersifat mekanitis, menekankan peranan
lingkungan, mementingkan pembentukan respon, dan menekankan pada pentingnya
latihan.
Kekuatan pada teori ini adalah behaviourism
memiliki tujuan yang jelas atau objektif dan baik bagi murid yang membutuhkan
rutinitas. Teori ini mengklaim bahwa perubahan permanen bersifat relative
karena didasarkan pada pengalaman lingkungan eksternal. Behaviourism juga
memiliki kelemahan, beberapa diantaranya yaitu tidak memperhitungkan
pikiran-pikiran serta alasan, kemudian jika isyarat atau stimulus hilang pada
respon yang benar maka siswa atau pelajar mungkin tidak memiliki strategi
alternatif lainnya, dan yang terakhir teori ini dapat mengarah pada taktik
menghindar atau melarikan diri.
Selain
itu, behaviourism ini juga memiliki asumsi bahwa pikiran manusia adalah sebuah
kotak hitam yang belum memiliki suatu pengetahuan tertentu. Hal ini yang
kemudian berlanjut pada asumsi kedua yaitu menganggap bahwa siswa adalah sebuah
kapal atau ruang kosong yang sedang menunggu untuk diisi. Asumsi yang
berikutnya posisi pengetahuan itu berada diluar indvidu manusia, artinya
pengetahuan ini berdiri terpisah dari siswa atau pembelajar. Dan asumsi yang
terakhir bahwa perilaku terbentuk dari konsekuensi atau akibat dari suatu hal
yang terjadi. Asumsi-asumsi ini yang kemudian dinilai tidak mampu memberikan
ruang kepada kemampuan manusia yang dapat merekonstruksi pengetahuan dari dalam
dirinya. Sehingga behaviourism perlahan tergantikan oleh pendekatan kognitif.
Pendekatan
kognitif memiliki cakupan yang luas. Pendekatan ini meliputi sosial kognitif
(bandura), proses informasi kognitif (piaget), dan pembelajaran bermakna
(ausebel assimilation). Lingkup pertama, social
cognitive atau sosial kognitif dari Bandura. Sosial kognitif menurut
Bandura adalah belajar dengan menekankan pengetahuan kognitif pada ranah
sosial. Artinya bahwa peserta didik belajar dengan meniru. Pengertian meniru
bukan berarti mencontek, akan tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang
lain, khususnya yang dilakukan oleh guru sebagai yang mendidiknya. Bandura
memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomaris atas
stimulus, melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi
antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Teori belajar
sosial dari Albert Bandura ini merupakan gabungan dari teori
belajar behaviourism dengan penguatan dan psikologi kognitif yang berpinsip
pada modifikasi perilaku.
Terdapat tiga konsep
dasar pada teori sosial kognitif atau belajar sosial. Yang pertama adalah reciprocal
determinism,yaitu pendekatan ini menjelaskan
tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal balik secara terus menerus,
antara kognitif, tingkah laku, dan lingkungan. Yang kedua adalah beyond
reinforcement yaitu pandangangan Bandura bahwa jika setiap unit
respon sosial yang kompleks harus diplah-pilah untuk dibangun kembali satu per
satu, maka bisa jadi orang tersebut malah tidak belajar apa pun. Menurutnya reinforcement penting
dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus menerus atau tidak, akan
tetapi hal ini bukanlah satu-satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat
belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa
yang dilihatnya. Yang terakhir ada self regulation, yaitu konsep Bandura
menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self
regulation), memengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan,
menciptakan dukungan kognitif, dan mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya
sendiri.
Teori
belajar ini menekankan sesorang bahwa ia dapat belajar dari interaksi sosial
dengan melakukan observasi kepada orang lain dan melihat konsekuensi dari
tindakan-tindakannya. Karena itu, proses internal mental seseorang bisa jadi
merupakan cerminan dari perubahan perilaku lingkungannya. Hal tersebut
menekankan bahwa teori ini juga memiliki kelemahan bahwa pembelajaran
ditekankan pada proses sosial saja dan menganggap otak manusia adalah suatu
ruang kosong tanpa pengetahuan.
Lingkup
kedua, yaitu cognitive information
processing atau proses informasi kognitif dari Piaget. Selama penelitian
Piaget semakin yakin akan adanya perbedaan antara proses pemikiran anak dan
orang dewasa. Ia yakin bahwa anak bukan merupakan suatu tiruan dari orang
dewasa. Anak bukan hanya berpikir kurang efisien dari orang dewasa, melainkan
berpikir secara berbeda dengan orang dewasa. Itulah sebabnya mengapa Piaget
yakin bahwa ada tahap perkembangan kognitif yang berbeda dari anak sampai
menjadi dewasa. Kunci dari konsentrasi ini adalah bagaimana kita memandang dan
mengingat sebuah informasi. Asumsi yang dimiliki teori ini adalah bahwa
pengetahuan berdiri sendiri diluar pemikiran seseorang.
Lingkup
ketiga yaitu meaningful learning atau
pembelajaran bermakna dari Ausebel. Pengertian belajar bermakna Menurut Ausubel
ada dua jenis belajar : (1) Belajar bermakna (meaningful learning) dan (2)
belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna adalah suatu proses belajar
di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah
dipunyai seseorang yang sedang belajar. Sedangkan belajar menghafal adalah
siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang
dibaca tanpa makna. Oleh karena itu menurut Ausebel belajar bukanlah sekedar
menghafal karena kebermaknaan diartikan sebagai kombinasi dari informasi
verbal, konsep, kaidah dan prinsip, bila ditinjau bersama-sama.
Belajar dikatakan menjadi bermakna
(meaningful learning) yang dikemukakan oleh Ausubel adalah apabila informasi
yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang
dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu mampu mengaitkan
informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Belajar seharusnya
merupakan apa yang disebut asimilasi bermakna, materi yang dipelajari di
asimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dipunyai sebelumnya.
Pelajar diberikan arahan dan bimbingan untuk dapat mencapai kebermaknaan dari
pengatahuan yang didapatkannya. Pembelajaran bermakna merupakan gabungan dari analisis,
tingkat pengetahuan belajar, rekonsiliasi integratif dan penyelenggaraan
pembelajaran tingkat lanjut.
Dari lingkup pendekatan kognitif ini
kemudian meluas kepada pengembangan kognitif. Pengembangan kognitif ini
meliputi tiga teori belajar yaitu genetic
epistemology (Piaget), discovery
learning (Bruner) dan sociocultural
theory (Vygotsky). Berikut akan dijelaskan satu persatu.
Lingkup pertama yaitu genetic epistemology dari Piaget. Teori ini secara progresif
dibangun melalui tahapan berurutan. Teori ini juga meyakini bahwa pembelajaran
dapat terjadi sebelum proses pengembangan serta pengetahuan memiliki fungsi
biologis dan muncul dari tindakan yang dilakukan. Tahap perkembangan kognitif
menurut Piaget dibagi menjadi empat tahapan antara lain :
1.
Tahap sensorimotor
(umur 0 – 2 tahun)
Pada
tahap sensorimotor, anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik yaitu
dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan. Karakteristik tahap ini
merupakan gerakan – gerakan akibat suatu reaksi langsung dari rangsangan. Anak
mengatur alamnya dengan indera(sensori) dan tindakan-tindakannya(motor), anak
belum mempunyai kesadaran – kesadaran adanya konsepsi yang tetap.
2.
Tahap persiapan
operasional (2-7 tahun)
Operasi
adalah suatu proses berpikir logis, dan merupakan aktifitas mental bukan
aktifitas sensorimotor. Pada tahap ini anak belum mampu melaksanakan operasi –
operasi mental. Unsur yang menonjol dalam tahap ini adalah mulai digunakannya
bahasa simbolis, yang berupa gambaran dan bahasa ucapan. Dengan menggunakan
bahasa, inteligensi anak semakin maju dan memacu perkembangan pemikiran anak
karena ia sudah dapat menggambarkan sesuatu dengan bentuk yang lain.
3.
Tahap operasi
konkret (7-11 tahun)
Tahap
operasi konkret dinyatakan dengan perkembangan system pemikiran yang didasarkan
pada peristiwa – peristiwa yang langsung dialami. Anak masih menerapkan logika
berpikir pada barang – barang yang konkret, belum bersifat abstrak maupun
hipotesis.
4.
Tahap operasi
formal (11 tahun keatas)
Tahap operasi
formal merupakan tahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Pada
tahap ini anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau
peristiwanya langsung.
Teori
milik Piaget ini juga memiliki pengertian bahwa pembelajaran sepenuhnya sudah
ada terpusat pada diri seseorang, artinya pengetahuan tidak berdiri sendiri
diluar seseorang melainkan sudah siap berada didalam diri seseorang tersebut.
Dengan keadaan yang sudah memiliki inilah yang kemudian akan membangun
pengetahuan yang sudah dimilikinya menjadi lebih baik dan lengkap dengan
dikembangkan secara terus menerus.
Lingkup
yang kedua adalah discovery learning dari
Bruner. Teori belajar ini mengajak siswa atau pelajar untuk menemukan sendiri
dengan dibimbing oleh guru. Bruner menekankan bahwa proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan. Bruner meyakini bahwa
pembelajaran tersebut bisa muncul dalam tiga cara atau bentuk, yaitu:
enactive,iconic dan simbolic.
Pembelajaran enaktif mengandung sebuah
kesamaan dengan kecerdasan inderawi dalam teori Piaget. Pengetahuan enaktif
adalah mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek – melakukan pengatahuan
tersebut daripada hanya memahaminya. Kemudian pembelajaran ikonik merupakan
pembelajaran yang melalui gambaran; dalam bentuk ini, anak-anak
mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak mereka. Yang
terakhir yaitu pembelajaran simbolik, ini merupakan pembelajaran yang dilakukan
melalui representasi pengalaman abstrak (seperti bahasa) yang sama sekali tidak
memiliki kesamaan fisik dengan pengalaman tersebut. Sebagaimana namanya,
membutuhkan pengetahuan yang abstrak, dan karena simbolik pembelajaran yang
satu ini serupa dengan operasional formal dalam proses berpikir dalam teori
Piaget.
Kemudian lingkup ketiga pada teori
pengembangan kognitif yaitu sociocultural
theory oleh Vygotsky. Teori ini memiliki keyakinan bahwa pembelajaran harus
terjadi sebelum pengembangan dengan memusatkan guru sebagai pusat pembelajaran.
Sosial budaya sangatlah penting dalam pembelajaran. Sociocultural theory ini juga mempengaruhi perkembangan dari teori
distribusi kognitif yang merupakan bagian dari pendekatan kognitif dan juga
pada perkembangan teori aktivitas. Selain itu, sociocultural theory bersama dengan dua lingkup sebelumnya juga memiliki pengaruh pada
perkembangan pada teori kontruktivism dari Papert yang melibatkan cognition situation atau situasi pada
keadaan kognitif. Pengaruh-pengaruh inilah yang kemudian menjadikan teori-teori
setelah behaviourism memiliki arah angina searah dalam perkembangannya
masing-masing.
Seiring berjalannya waktu, teori belajar
saat ini sudah mulai menggunakan pendekatan teknologi baru yaitu model belajar
online dan teori konektivitas. Model belajar online menurut Anderson ini
didukung oleh fasilitas kemampuan web dan memiliki keterhubungan oleh seluruh
relasi antara guru, siswa dan juga konten atau media yang digunakan. Teori
belajar ini berkembangan sesuai dengan perkembangan teknoloogi yang terus
melaju pesat dengan tetap terintegrasi pada pelajar, komunitas, pengetahuan dan
penilaian dalam sistem pembelajaran. Model belajar online ini juga memiliki
kaitan erat dengan teori konektivitas.
Teori konektivitas menurut Siemens ini
memiliki beberapa kunci penting, yaitu memiliki tujuan untuk tetap
mempertahankan informasi terbaru dan terpercaya atau akurat, memiliki perangkat
informasi yang terkoneksi untuk siswa atau pelajar, serta membangun hubungan
sosial untuk dapat mengolah masuknya informasi yang ada dan berkembang. Teori
ini juga didukung oleh CSILE (Computer
Supported Intetional Learning Environments) atau forum yang bergerak
dibidang keilmuan.
Kesimpulan
Teori belajar dengan pendekatan teknologi
baru ini telah dianggap telah melengkapi kebutuhan pembelajaran di era
teknologi yang terus berkembang pesat. Koneksi dan relasi dianggap sebagai poin
penting setelah terbukanya akses yang dapat dengan mudah digunakan oleh
pelajar. Namun, teori-teori terbaru ini mengurangi intensitas pertemuan antar
individu untuk menjalin hubungan sosial secara langsung yang dapat berdampak
pada penurunan sifat sosial didalam setiap individu. Adanya penggunaan teori
perlu ditempatkan dengan adil dan secara merata, misalnya saja kita dapat
memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk dapat menjalin relasi dan mempermudah
megkonstruksikan ilmu namun tetap menjaga interaksi sosial didalam
pembelajaran. Hai ini perlu disesuaikan dengan kondisi dimana terjadinya proses
pembelajaran sehingga terjadi kestabilan dan mampu mencapai tujuan pembelajaran
khususnya pembelajaran matematika.
DAFTAR PUSTAKA
http://141.26.69.231:8081/rid=1J4WFW3B5-188TSW6-9K2/Theories.cmap
Sutarto, S. (2017). Teori Kognitif dan Implikasinya Dalam
Pembelajaran. Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 1(2),
1. https://doi.org/10.29240/jbk.v1i2.331
Candra,S. (2017). Program
Pascasarjana - UNY TEORI BELAJAR. (Learning Theory) Oleh. Dr. H. MUKMINAN. PPs.
UNY. Diambil kembali dari DOCPLAYER: https://docplayer.info/64573992-Program-pascasarjana-uny-teori-belajar-learning-theory-oleh-
dr-h-mukminan-pps-uny.html
admin.
(2018, Maret 19). Teori Belajar Bandura dan Implementasinya dalam Pembelajaran.
Diambil kembali dari AMONG GURU:
https://www.amongguru.com/teori-belajar-bandura-dan-implementasinya-dalam-pembelajaran/
Nahdiyah,
I. A., & Rohman, M. F. (2017, Desember 9). TEORI KOGNITIF DAN INFORMATION
PROCESSING SERTA PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN. Diambil kembali dari RAHMA:
http://nikmahrochmawati.blogspot.com/2017/12/psi-teori-kognitif-dan-information.html
Pranata,
J. (2013, Maret 17). Penerapan Teori Belajar Piaget dalam Pengajaran
Matematika. Diambil kembali dari juandipranata12:
https://juandipranata12.blogspot.com/
Puspa,
D. C. (2016, Desember 19). Teori Belajar Matematika Menurut Paham Behaviorisme.
Diambil kembali dari Dara: https://daracempakadwipuspa.blogspot.com/2016/12/teori-belajar-matematika-menurut-paham.html
Sudrajat,
A. (2008, Februari 2). Teori – Teori Belajar: Behaviorisme, Kognitif, dan
Gestalt. Diambil kembali dari Blog Pendidikan AKHMAD SUDRAJAT tentang
PENDIDIKAN: https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-belajar/
Komentar
Posting Komentar